Mbah Taminah Hidup Sebatangkara di “Gubuk” Depan Balai Desa Wotanngare

Reporter : Piping

Rajekwesi.com, Bojonegoro – Potret kemiskinan di Bojonegoro masih terlihat jelas di RT 19 RW 06 desa Wotan Ngare Kecamatan Kalitidu kabupaten Bojonegoro. Di gubuk reot berukuran 3×4 meter yang berada di depan kantor balai desa Wotanngare, Mbah Taminah (78) Hidup sebatang kara, dan mengandalkan belas kasihan para tetangganya untuk hidup sehari-hari.

Masih nampak pakaian lusuh yang dikenakan olehnya saat duduk termenung didepan rumah ketika para awak media datang Minggu (07/01/2018) sekitar pukul 12.39 wib.

 

Usianya yang senja membuat Mbah Taminah sulit berkomunikasi, bahkan untuk berjalan terlihat berat baginya.

Dari penuturanya, untuk bertahan hidup sehari-hari makan dan minum, dia biasa dibantu oleh para tetangganya. Tidak sedikit orang-orang yang mampir di warung sebelah rumahnya berbaik hati memberikan uang. ” Dikasih tetangga,” Ujarnya singkat.

Suaminya Rostam sudah meninggal sejak dua puluh tahun lalu, sejak saat itu Mbah Taminah hidup sebatang kara.

 

Rumah yang ditempatinya pun terlihat sangat tidak layak huni, bangunan kecil tua itu berdiri di atas tanah kas desa Wotanngare.

Jika masuk kedalam, kita akan melihat hanya ada dua ruangan di rumah itu. Di ruang tamu ada satu meja, dengan sebuah bangku. Ruangan kedua adalah kamar Mbah Taminah dengan satu dipan yang biasa digunakannya untuk tidur. Hampir tidak ada satupun barang berharga di dalam rumah tersebut.

 

Karmin, tetangga dekat Mbah Taminah mengatakan, setiap hari ia hanya bisa memberikan air minum serta makanan seadanya. Para tetangga maupun orang yang mampir seringkali memberikan makanan maupun uang kepada Mbah Taminah.

” Biasanya ya beli makanan juga, ya dari uang pemberian orang ,” Ujar Karmin.

Karmin turut merasa kasihan, dengan kondisi serba kekurangan tersebut, Mbah Taminah jarang sekali mendapatkan bantuan sosial. Hampir tidak pernah sama sekali mendapatkan bantuan, kalaupun ada hanyalah beras miskin.

 

” Gak pernah sama sekali, seperti kemarin ada bantuan kambing yang dapat juga orang yang mampu, bahkan punya sepeda motor,” Terang Karmin.

Sebagai tetangga terdekat, Karmin merasa kasihan, di usia senjanya Mbah Taminah harus hidup miskin dan sebatangkara. Dia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah bagi warga seperti Mbah Taminah.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *